"Kalau di Masjid Nurul Mubien Namosain hampir setiap tahun kita selalu menyisihkan buat umat non-Muslim khususnya kaum duafa dan fakir miskin untuk mendapatkannya. Tahun ini juga kita lakukan hal yang sama," kata Ketua Panitia Idul Adha Masjid Nurul, Mubiean Namosain Muhammad Laluma, Minggu (11/9/2016).
Hal tersebut, katanya, dilakukan berdasarkan hasil kesepakatan panitia Idul Adha di daerah Namosain, Kota Kupang yang merasa perlu berbagi kebahagiaan dengan umat non-Muslim di "kota kasih" tersebut.
Selain itu, hal tersebut juga menjadi bukti bahwa Kupang merupakan kota yang penuh kasih dan selalu hidup rukun dan damai dengan tetap menjalin toleransi antar umat beragama di daerah itu.
"Hingga saat ini baru ada sekitar tiga ekor sapi yang tengah disiapkan untuk kurban, kemudian untuk kambing ada sekitar sembilan ekor. Namun jumlah tersebut dipastikan akan bertambah," tuturnya.
Ia juga memastikan bisa dipastikan bisa sekitar 50an ekor hewan kurban yang akan dikurbankan dan selain dibagikan kepada umat Muslim tetapi juga akan dibagikan kepada umat Kristen yang berada di sekitaran Masjid tersebut.
Muhammad Laluma juga mengatakan akan mendata secara cermat siapa-siapa saja umat non-Muslim yang akan mendapatkannya sehingga, nantinya hewan kurban tersebut bisa sampai ke umat Kristen yang memang layak untuk menerimanya.
"Artinya bahwa kita akan fokuskan kepada umat Kristen yang memang tidak mampu, atau yang berkesusahaan," tuturnya.
Sementara itu untuk untuk panitia Idul Adha di Masjid Nurul Hidayat Kelapa Lima sendiri tahun ini tidak membagikan kepada umat non-Muslim di Kota Kupang.
"Tahun lalu ada 30an umat Kristen yang tidak mampu yang mendapatkan pembagian hewan kurban. Tetapi tahun ini kita lihat terlebih dahulu jumlah hewan kurbannya," ujar Ketua Panitia Idul Adha Masjid Nurul Hidayat Kelapa Lima, Trisno Bano.
Tetapi hingga kini, menurutnya sudah ada belasanekor sapi dan 19 ekor kambing yang telah didaftarkan untuk dikurbankan dan dibagikan usai shalat Idul Adha.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT Abdul Kadir Makarim sendiri justru mendukung dan meminta agar budaya membagikan hewan kurban kepada kaum yang tidak mampu di luar umat Muslim harus dipertahankan untuk menjaga toleransi antar umat beragama di NTT.
"Tuhan itu menciptakan kita untuk saling berbagi. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan mana umat Muslim, Mana Umat Kristen, atau juga Hindu atau Budha. Oleh karena itu mari berbagi tanpa harus melihat agamanya," ujarnya. ***Samuel Art